Program AUK Banten Bersama Volunteerism CSR PT Mahadasha

Mandi di Sungai

Kondisi sehari-hari warga mandi di sungai

Program Air Untuk Kehidupan di wilayah Banten, khususnya di desa Bendung merupakan titik program air ke 32 dari 34 titik di seluruh Indonesia. Lokasi pengadaan program kali ini terletak di dusun Sangkak (RT 09/ RW 04), desa Bendung yang merupakan salahsatu desa yang letaknya di pinggiran kota Serang, Banten. Kondisi wilayah dusun tersebut mayoritas berupa pesawahan irigasi, dengan lokasi desa yang dikelilingi oleh persawahaan dan letaknya tidak jauh dari laut (±15 Km). Di dusun tersebut terdapat irigasi sungai yang menjadi sumber pemanfaatan kebutuhan air (mandi, cuci, kakus dan minum).

Suasana pesawahan di sekitar desa

Kondisi wilayahnya yang sangat subur digunakan untuk lahan pertanian. Sebagian besar masyarakat memanfaatkannya untuk bercocok tanam padi sawah dan beberapa membuka lahan kebun kecil-kecilan. Selain itu, akses air di sini sudah terjangkau dengan adanya sungai irigasi buatan untuk mampu mengairi sawahnya. Hanya saja, tiap aliran anak sungainya diberi pintu air untuk kegiatan penjadwalan mengairi sawah ke desa-desa lainnya. Sekitar 3-4 hari dalam seminggu tiap desa akan mendapatkan aliran air sungai.

Sungai di desa Bendung merupakan akses vital bagi kebutuhan air bersih warga, karena sebagian besar masyarakat di sana belum mampu mengakses air bersih menggunakan sumur bor. Alasan ekonomi merupakan faktor utamanya. Dengan rata-rata penghasilan Rp. 30.000,00/hari, para buruh tani yang merupakan mayoritas mata pencaharian di desa ini, belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan hidup mereka, apalagi untuk membangun sumur bor. Dari 86 jumlah rumah yang ada, hanya 10 diantaranya yang memiliki kamar mandi sendiri, sisanya melakukan aktifitas MCK di sungai. Bahkan jika pada hari dengan jadwal tidak ada pengairan sungai, maka kebanyakan warga BAB di pekarangan, sawah, hingga ada yang di pinggir jalan dekat sawah.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Aktifitas pembangunan MCK Komunal sudah 80%

Kondisi air di desa Bendung merupakan air asin dan payau, dengan kedalam pengeboran hingga 8 meter merupakan air asin, sedangkan pengeboran 18-40 meter menghasilkan air payau. Kemudian untuk kebutuhan air minum, warga memanfaatkan air sungai yang diendapkan dengan tawas untuk penjernihan airnya sehingga dapat dikonsumsi. Tawas (Aluminium Sulfat = KAl(SO4)2) merupakan bahan kimiawi berupa kristal garam dan bersifat isomorph (gabungan dua zat yang mempunyai struktur kristal yang sama) dengan pH rendah (pH 8) yang mampu menjernihkan air karena dapat mengendapkan kotoran-kotoran yang terlarut dalam air. Padahal menurut penelitian Guyton and Hall (1997), dilihat dari struktur kimianya tawas mengandung logam berat alumunium yang dalam bentuk ion sangat beracun apabila terkonsumsi dalam jumlah berlebihan. Paparan alumunium berlebih dapat merusak organ detoktifikasi yaitu hati.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Ngariung bareng saat kegiatan volunteerism PT Mahadasha

Sosialisasi mengenai pembiasaan warga menggunakan air bersih dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat telah dilaksanakan pada tanggal 19 November dan 1 Desember 2014 di lokasi program. Untuk mencapai kegiatan ini diperlukan persiapan-persiapan mengenai teknis pelaksanaannya. Rapat koordinasi (rakor) telah dilakukan selama dua kali, yaitu pada tanggal 31 Oktober dan 12 November 2014. Dari rakor ini dihasilkan kesepakatan pelaksanaan antara Dompet Dhuafa Pusat bersama tim LKC DD Banten untuk pelaksanaannya.

Kegiatan sosialisasi PHBS dibagi dua kelompok, kelompok sasaran untuk anak-anak dan kelompok sasaran untuk dewasa. Untuk anak, kegiatannya dilakukan di SD Negeri Cibomo, Desa Bendung dan untuk dewasa dilaksanakan di Majlis Ta’lim Dusun Sungak, dengan peserta kaum Ibu-ibu. Sedangkan untuk pria dan bapak-bapaknya melaksanakan kegiatan pembangunan MCK Komunal.

DSC_0210

Gotong royong peserta volunteerism PT Mahadasha

Categories: Air Untuk Kehidupan | Leave a comment

Peta Sebaran Program Semesta Hijau

Peta Sebaran Program SEMAI

Program Air untuk Kehidupan                : 32 titik di Indonesia

Program Sedekah Pohon                       : 24 titik di Indonesia

Program Pengelolaan Limbah Sampah : 2 titik di Indonesia

Categories: Foto | Leave a comment

FGD Pengelolaan Sampah, Pulau Panggang – Jakarta

Usai sesi diskusi  peserta diajak untuk "Ice Breaking" di dampingi oleh Heni Saraswati (kanan) perwakilan Semesta Hijau Dompet Dhuafa dan salah satu peserta FGD (kiri)

Usai sesi diskusi peserta diajak untuk “Ice Breaking” di dampingi oleh Heni Saraswati (kanan) perwakilan Semesta Hijau Dompet Dhuafa dan salah satu peserta FGD (kiri)

Categories: Pengelolaan Sampah | Leave a comment

Monitoring Program Sedekah Pohon Sumber Brantas, Kota Batu

Desa Sumber Brantas adalah sebuah desa yang berada di Kabupaten Bumiaji, Kota Batu, Indonesia. Desa ini merupakan kawasan pemekaran dari Desa Tulungrejo yang juga berada di Kecamatan Bumiaji. Lokasi desa berbatasan langsung dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo dan hutan lindung yang dikelola Perhutani KPH Malang, dengan posisi koordinat yang terletak pada 7° 46′ 58″ – 7° 43′ 30″ Lintang Selatan dan 112° 30′ 18″- 112° 34′ 49″ Bujur Timur. Desa ini terletak di lembah yang berada di kaki Gunung Arjuna yang memiliki sumber mata air yang merupakan titik nol (0) aliran sungai Brantas di Jawa Timur.

DSC_0413

Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan bahwa jumlah pohon dari program Sedekah Pohon yang telah ditanam sebanyak 8000 pohon jambu, 1500 pohon kopi Arabika dan 500 pohon kesemek. Secara keseluruhan, semua pohon terlihat tumbuh subur dengan 98% hidup dengan subur, 2% pertumbuhan layu akibat kurangnya perawatan dari salahseorang petani. Kemudian saat ini pengurusan tersebut telah digantikan dengan petani lain yang lebih baik dalam kegiatan perawatan tanaman. Sehingga saat ini 100% pohon yang ditanam Insya-aAllah tumbuh semua.

DSC_0308 (800x530)

Selain program penaman pohon jambu merah dan kopi, terdapat juga program penyaluran air bersih menggunakan diesel. Karena kebutuhan yang mendesak dari warga terhadap kebutuhan septic tank, sehingga sebagian dananya digunakan untuk membangun fasilitas tersebut dan akhirnya fasilitas ini lebih bermanfaat bagi warga dibanding pengadaan mesin diesel.

DSC_0095  

Mayoritas warga desa Sumber Brantas bekerja sebagai petani sayur. Sebagian warga merupakan pendatang dari wilayah-wilayah sekitar. Gelombang para pendatang tersebut mengalami puncaknya sesaat setelah gelombang reformasi 1998. Pada saat Pemerintahan KH. Abdurahman Wahid, warga berdatangan ke kawasan yang kini bernama Desa Sumber Brantas untuk membuka hutan dan mengubahnya menjadi areal pertanian dengan maksud mengubah kondisi penghidupan.

DSC_0319

Berdasarkan lokasi yang turut serta dalam program ini maka terdapat 80 KK sebagai penerima manfaat. Kelompok yang terlibat dalam program ini terdiri dari kelompok warga yang peduli akan kondisi desa dan lingkunganya kemudian membentuk Komunitas Petani Penyelamat Daerah Aliran Sungai (KPPDAS) Brantas yang didampingi oleh yayasan PUSAKA yang diketuai oleh Pak Bambang Parianom.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

MASYARAKAT KELURAHAN PULAU PANGGANG: MANA SAMPAHMU?

Pulau Pramuka – Dompet Dhuafa melalui program Semesta Hijau bekerjasama dengan Rumah Daur Ulang Samo’-samo dan Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama masyarakat Kelurahan Pulau Panggang merajut asa dalam meminimalisir volume sampah yang semakin hari semakin bertambah dalam “3 E” Ekonomi, Ekologis dan Ekonomi.

M Badowy memberikan penjelasan pentingnya 3E (Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi) dalam acara FGD MENINGKATKAN  EKONOMI PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU

M Badowy memberikan penjelasan pentingnya 3E (Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi) dalam acara FGD MENINGKATKAN EKONOMI PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU

Hal ini dikemukakan oleh M Baedowy, seorang pengusaha mesin cacah plastic dah hasil produksinya. “Edukasi berupa pendidikan tentang buang sampah pada tempatnya, pemilihan dan pengelolaan sampah. Ekologis, dalam mengelola sampah harus memperhatikan lingkungan. Sementara,ekonomi, pengelolaan sampah harus memberikan nilai tambah untuk ekonomi sehingga menghasilkan uang.Misalnya Harga jual plastic gelas kemasan adalah2500/kg tapi ketika sudah dicacah menjadi 11.000. Ada selisih bersih  sebagai keuntungan sebesar Rp500/kg – 3 Rp 1.500/kg. Jika setiap hari mencacah sampai ratusan kilo maka tinggal di hitung saja”, kata bapak dari 3 anak ini. Pernyataan tersebut disampaikan pada acara di FGD MENINGKATKAN  EKONOMI PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU yang dilakukan pada tangggal 22 Desember 2013 bertempat di Pulau Pramuka, tepatnya di Taman Nasional Kepulauan Seribu.

Kegiatan ini dibuka oleh Muhammad Ali (Lurah Pulau Panggang) dan dilanjutkan dengan presentasi M Baedowy dan diskusi kelompok. M Baedowy mengajak masyarakat di Kepulauan Seribu untuk menantang wisatawan lokal maupun asing untuk membawa sampah plastic dengan slogan “ Mana sampahmu ?” . Dengan slogan tersebut dapat membuktikan bahwa kelurahan Pulau Panggang mampu meminimalisir sampah dan mampu disulap menjadi sebuah produk yang memiliki nilai ekonomi.

Muhammad Ali, Lurah Pulau Panggang pada pembukaan acara tersebut menyampaikan harapan agar kegiatan ini bisa memberikan perubahan budaya kepada masyarakat dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah serta mempunyai nilai ekonomi sehingga pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari Semesta Hijau, diwakili oleh Widowati menitipkan mesin pencacah kepada masyarakat agar mesinnya bisa bermanfaat secara maksimal sehingga tidak sampai menganggur karena ini berkaitan dengan pertanggungjawaban dana yang dititipkan kepada Dompet Dhuafa selaku lembga charity umat Berikutnya sesi diskusi kelompok.

Peserta FGD sedang berdiskusi didampingi oleh Bapak Kholil (kiri) dan Bapak Imam (kanan) dari Fak. Teknik UNJ

Peserta FGD sedang berdiskusi didampingi oleh Bapak Kholil (kiri) dan Bapak Imam (kanan) dari Fak. Teknik UNJ

Diskusi tersebut melibatkan pengepul, penyetor sampah, Ibu rumah tangga, petugas kebersihan, RT/RW, aparat pemerintah, sekolah,  dan pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Peserta dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok RT/RW. PKK, sekolah, pengepul dan petugas kebersihan kelurahan. Kelompok pertama yaitu RT/RW, kelompok tersebut  focus pada kebijakan dan memantau kebersihan. Kelompok kedua yaitu, kelompok PKK dimana  akan menangani sampah di setiap rumah tangga dengan mengadakan pemilahan. Kelompok ketiga yaitu kelompok sekolah berfokus dalam mengambil inisiasi mengumpulkan sampah plastic dari jajan para siswa. Kelompok keempat adalah kelompok petugas kebersihan dimana menjalankan tugas dan kewajibannya dalam mengumpulkan sampah di pulau. Selanjutnya kelompok terakhir adalah kelompok para pengepul sampah berdiskusi dalam pembentukan asosiasi agar bersatu dan mampu mengoptimalkan fungsi mesin pencacah plastic yang ada.

Usai sesi diskusi  peserta diajak untuk "Ice Breaking" di dampingi oleh Heni Saraswati (kanan) perwakilan Semesta Hijau Dompet Dhuafa dan salah satu peserta FGD (kiri)

Usai sesi diskusi peserta diajak untuk “Ice Breaking” di dampingi oleh Heni Saraswati (kanan) perwakilan Semesta Hijau Dompet Dhuafa dan salah satu peserta FGD (kiri)

Upaya diskusi melalui FGD MENINGKATKAN  EKONOMI PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU yang melibatkan seluruh kalangan diharapkan mampu mengevaluasi dan menghasilkan kesepakatan bersama dalam meminimalisir sampah disetiap kalangan dan berani menghadap tantangan pada saat sampah melanda tanah  mereka  tentunya  dengan slogan “Mana Sampahmu”. (Wid/Nie)

Categories: Pengelolaan Sampah | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Sedekah Pohon: Dompet Dhuafa Mendukung Konservasi Bambu

Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa Parni Hadi bersama Wakil Bupati Bandung Barat Yayat Y Soemitra dan Ketua Yayasan Saung Angklung Udjo Sam Udjo beserta undangan saat peluncuran kerjasama Dompet Dhuafa dan Yayasan Saung Angklung Udjo untuk budidaya bambu dan angkung di kawasan Goa Pawon, Cipatat, Bandung Barat pada Kamis (26/12).

Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa Parni Hadi bersama Wakil Bupati Bandung Barat Yayat T. Soemitra dan Ketua Yayasan Saung Angklung Udjo Sam Udjo beserta undangan saat peluncuran kerjasama Dompet Dhuafa dan Yayasan Saung Angklung Udjo untuk budidaya bambu dan angkung di kawasan Goa Pawon, Cipatat, Bandung Barat pada Kamis (26/12).

Bandung. Kamis (26/12) Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Yayasan Saung Angklung Udjo dan Yayasan Kehati meluncurkan program penanaman pohon bambu di kawasan Goa Pawon, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Peluncuran ini dihadiri Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat Yayat T. Soemitra, Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa Parni Hadi, Ketua Yayasan Saung Angklung Udjo Sam Udjo, dan kelompok petani mitra program dari desa Gunung Masigit, Cipatat, Bandung Barat. Read more »

Categories: Sedekah Pohon | Tags: , , , , , , , , , | 4 Comments

Yolanda yang Menghancurkan, Kemiskinan yang Menewaskan!

Tidak perlu badai sehebat Topan Haiyan, kemiskinan kronis di Filipina sudah lebih dulu "membunuh".

Tidak perlu badai sehebat Topan Haiyan, kemiskinan kronis di Filipina sudah lebih dulu “membunuh”.

Topan Haiyan, atau yang oleh masyarakat Filipina disebut “Yolanda”, telah menjadi bencana cuaca ekstrem terbesar dan yang paling menakutkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Meski demikian, tetap saja, kemiskinan menjadi faktor “pembunuh” paling utama. Mengapa? Read more »

Categories: Catatan Perjalanan | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Lokasi-Lokasi Program Air untuk Kehidupan

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Lokasi-Lokasi Program Sedekah Pohon

Categories: Sedekah Pohon | Tags: , , , | Leave a comment

Sekilas tentang Program Sedekah Pohon di Nyalindung

Hamparan sawah di Desa Nyalindung, Sukabumi

Hamparan sawah di Desa Nyalindung, Sukabumi

Program Sedekah Pohon Pala di Kampung Citalahab, Nyalindung, Sukabumi melibatkan 180 mitra petani dengan total jumlah bibit yang ditanam sebanyak 720 bibit. Read more »

Categories: Sedekah Pohon | Tags: , , , , , | Leave a comment